Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Ketika Jiwaku Ternyata Sedang Kelaparan

Hari ini, hatiku dipenuhi rasa syukur yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ada sukacita yang begitu besar, sekaligus rasa haru yang membuatku menyadari satu hal penting yang selama ini luput dari perhatianku . Selama beberapa waktu terakhir , aku terus bertanya-tanya mengapa ada kekosongan yang begitu dalam di dalam diriku . Aku merasa baik-baik saja, menjalani hari seperti biasa, berbicara, tertawa, dan bertemu banyak orang. Namun, entah mengapa ada bagian dari diriku yang terasa hilang . Aku hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani . Makan, beristirahat, dan menjalani rutinitas seperti biasa . Tetapi aku lupa bahwa ada bagian lain dari diriku yang juga membutuhkan makanan. Jiwaku . Kini aku mengerti bahwa bukan tubuhku yang sedang kelaparan, melainkan rohaniku yang sudah terlalu lama tidak benar-benar diberi makan. Tak heran jika setiap kali berkumpul dengan orang lain, pandanganku sering kosong . Tubuhku hadir, tetapi pikiranku melayang entah ke mana. Mata ini melihat ke...

Di Persimpangan yang Tak Terlihat

Hai, sobatku. Pernahkah kalian merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan ? Bukan persimpangan jalan yang bisa dilihat mata, melainkan persimpangan dalam hidup. Tempat di mana sebuah pilihan yang terlihat sederhana justru terasa begitu rumit untuk diputuskan . Aku sedang berada di titik itu. Sebuah keputusan yang bukan hanya tentang memilih langkah, tetapi juga tentang memilih akan menjadi pribadi seperti apa setelahnya. Karena terkadang, satu perubahan kecil mampu mengubah banyak hal dalam hidup . Cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan orang-orang yang tetap memilih tinggal atau perlahan menjauh. Yang paling melelahkan bukanlah memilih. Melainkan kebingungan yang datang sebelum keputusan itu dibuat. Rasanya seperti tubuhku ada di satu tempat, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Saat sedang mengobrol, tertawa, atau berkumpul dengan orang lain, pikiranku justru sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. Aku tersenyum, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak pertanyaan y...

Ada Malam-Malam yang Tak Lagi Mengizinkanku Tidur

Beberapa hari belakangan ini, tidur terasa menjadi sesuatu yang begitu sulit kuraih. Tubuhku memang berbaring di atas kasur, tetapi pikiranku terus berjalan ke mana-mana. Ada begitu banyak hal yang datang silih berganti, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar selesai dalam hidupku. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri. Apakah ini karena terlalu banyak masalah yang kutinggalkan tanpa penyelesaian? Terlalu banyak cerita yang berakhir begitu saja. Tidak ada penjelasan, tidak ada kata perpisahan yang baik, bahkan tidak ada kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami. Aku memilih pergi. Mungkin saat itu aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diriku sendiri, tanpa menyadari bahwa kepergianku mungkin meninggalkan luka di hati orang lain. Semakin malam, semakin banyak kenangan yang bermunculan. Wajah-wajah yang pernah hadir dalam hidupku datang silih berganti memenuhi ingatan. Ada rasa bersalah, ada penyesalan, dan ada kepahitan yang hingga hari ini ma...

Tuhan, Aku Rindu Engkau Membangunkanku di Jam 3 Subuh

Ada satu kerinduan yang akhir-akhir ini terus memenuhi hatiku. Aku rindu saat Tuhan membangunkanku di pukul tiga dini hari . Bukan karena aku ingin kembali merasakan beratnya hidup, tetapi karena di waktu itulah aku merasa begitu dekat dengan-Nya . Saat dunia masih terlelap, hanya ada aku, air mata, dan doa-doa yang mengalir tanpa mampu lagi kutahan. Kini aku semakin mengerti, terkadang Tuhan mengizinkan kita melewati begitu banyak masalah, kesulitan, bahkan kehancuran. Bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan untuk menarik kita kembali mendekat kepada-Nya. Dia mengingatkan kita agar kembali berlutut . Bukan karena setelah berdoa semua masalah akan langsung selesai. Tidak.  Kenyataannya, banyak persoalan tetap ada. Namun ada sesuatu yang selalu Tuhan berikan setelah setiap doa yang tulus: damai yang sulit dijelaskan, ketenangan yang tak bisa dibeli, dan sukacita yang tetap bertahan meski badai belum reda. Aku rindu sentuhan itu . Aku rindu hentakan kecil dalam hati yang seo...

Ternyata, Selama Ini Aku Hanya Pandai Berpura-Pura

Ada hari-hari di mana aku tersenyum, bercanda, dan terlihat baik-baik saja. Orang-orang mengira hidupku berjalan seperti biasa. Namun, hanya aku yang tahu bahwa senyum itu sering kali hanyalah topeng . Belakangan ini, ada kekosongan yang sulit sekali kujelaskan. Rasanya seperti tubuhku berada di tengah keramaian, tetapi pikiranku mengembara ke tempat yang entah di mana. Aku hadir, tetapi tidak benar-benar ada. Aku mendengar orang berbicara, tetapi suara-suara itu seperti berlalu begitu saja tanpa benar-benar sampai ke hatiku. Sering kali aku terdiam dengan pandangan kosong. Di luar terlihat tenang, tetapi di dalam kepalaku begitu riuh. Pikiran-pikiran datang silih berganti tanpa arah, membuatku lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Ada saat-saat ketika aku ingin berteriak sekencang mungkin. " Sudah cukup! " Namun, aku tahu teriakan itu tidak akan menghentikan apa pun. Kekosongan itu tetap ada, diam-diam memenuhi setiap sudut hatiku. Kini aku mulai memahami satu hal....

Ketika Ketakutanku Ternyata Hidup di Dalam Diri Anakku

Ada satu hal yang belakangan ini terus membuatku berpikir . Dulu, saat mengandung anakku, aku adalah pribadi yang penuh ketakutan. Aku takut berada sendirian. Aku takut pada gelapnya malam. Bahkan suara hujan yang turun begitu deras sering membuat hatiku gelisah tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku mengira semua ketakutan itu hanya akan menjadi bagian dari perjalanan kehamilanku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, aku akan melihat hal yang sama pada anakku. Hari ini aku baru benar-benar menyadarinya. Anakku ternyata memiliki ketakutan yang sangat mirip denganku dulu. Ia tidak suka ditinggal sendirian. Ia merasa takut ketika ruangan terlalu gelap. Dan setiap kali hujan turun dengan suara yang keras, ia terlihat cemas dan mencari tempat yang membuatnya merasa aman. Melihat itu membuatku terdiam. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah mungkin ketakutan yang dulu aku rasakan selama kehamilan ikut terbawa dalam tumbuh kembangnya? Ataukah tanpa sadar, sikap d...

Ketika Menjauh Adalah Pilihan Terbaik

 Ada satu hal yang belakangan ini sering terlintas di pikiranku. Sebagai manusia, kita semua pasti pernah berbuat salah. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar sempurna. Kadang tanpa sadar kita memiliki ego yang begitu besar, merasa pendapat kitalah yang paling benar, memandang rendah orang lain, dan menilai segala sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri. Lebih menyedihkan lagi, terkadang kita begitu mudah percaya pada cerita yang belum tentu benar. Mendengar satu sisi, lalu langsung mengambil kesimpulan. Menghakimi tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku belajar bahwa ada orang-orang yang, sekeras apa pun kita mencoba menjelaskan, tetap tidak akan mau mendengarkan. Bukan karena kita kurang jelas berbicara, tetapi karena hati dan pikirannya sudah tertutup oleh keyakinan yang ia bangun sendiri. Di saat seperti itu, aku menyadari bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahpahaman harus dipaksa untuk diluruskan saat itu juga. Ka...

PERJALANAN ATI

Ketika Mimpi, Luka, dan Kehidupan Datang Bersamaan. Ada masa dalam hidup yang ingin sekali kita hapus dari ingatan. Namun sekeras apa pun kita mencoba melupakan, kenangan itu tetap tinggal, menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diri kita hari ini. Namaku Ati. Jika melihatku sekarang, mungkin banyak orang mengira hidupku baik-baik saja. Mereka melihat senyum yang kubagikan, melihat aku tetap berdiri, tetap bekerja, tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Namun di balik itu semua, ada perjalanan panjang yang penuh luka, kehilangan, dan air mata yang tak pernah benar-benar selesai. Aku pernah gagal dalam kehidupan pribadiku. Aku terjatuh dalam keputusan yang mengubah seluruh jalan hidupku. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang ibu di usia yang begitu muda. Namun ketika takdir membawaku ke titik itu, aku belajar bahwa seorang perempuan bisa menjadi jauh lebih kuat daripada yang ia bayangkan. Pertaruhan Antara Hidup dan Mati. Hari kelahiran anakku adalah h...

Sebelum Meminta Pinjaman, Coba Pahami Dulu Keadaan Orang Lain

Ringan Mengucapkan "Pinjam Dulu" Hari ini ada satu hal yang kembali terlintas di pikiranku. Jujur saja, aku masih sering dibuat heran oleh satu kebiasaan yang entah kenapa terasa begitu lumrah bagi sebagian orang. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya meminjam uang kepada orang yang bahkan sedang berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri? Ini bukan tentang satu orang tertentu. Bukan pula tentang ingin menyindir siapa pun. Aku hanya sedang menuliskan apa yang sering kulihat dan kurasakan dalam kehidupan sehari-hari. Yang membuatku heran adalah betapa ringannya sebagian orang mengucapkan atau mengetik kata, " Pinjam dulu ya. " Seolah-olah kalimat itu tidak memiliki beban apa pun. Padahal di balik layar, orang yang dimintai pinjaman mungkin juga sedang berusaha bertahan. Mungkin sedang menganggur. Mungkin sedang mencari pekerjaan. Mungkin sedang menghitung sisa uang yang dimiliki agar cukup sampai akhir bulan. Ironisnya, terkadang yang mem...

Luka yang Tak Terlihat

Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit. Tidak berdarah, tidak tampak, bahkan sering kali tertutup oleh senyuman yang terlihat baik-baik saja . Setiap hari aku berjalan seperti biasa. Menyapa orang lain, tertawa ketika diperlukan, dan menjalani rutinitas tanpa banyak keluhan. Namun, tidak semua orang tahu bahwa di balik tawa itu ada kelelahan yang terus tumbuh dalam diam . Yang paling berat bukanlah saat luka itu datang. Bukan pula saat air mata jatuh tanpa suara . Yang paling sulit adalah ketika aku harus terus melangkah seolah semuanya baik-baik saja , padahal di dalam hati ada bagian yang masih berusaha memahami dan menyembuhkan dirinya sendiri. Terkadang hidup mengajarkan bahwa tidak semua rasa sakit harus diceritakan . Ada kesedihan yang hanya bisa dipeluk oleh waktu , ada kecewa yang hanya bisa disembuhkan oleh penerimaan, dan ada luka yang perlahan sembuh ketika kita belajar berdamai dengan diri sendiri. Aku sadar, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka . ...

Nenek di Balik Kegelapan

Malam itu terasa berbeda. Aku berada di dalam sebuah ruangan yang gelap gulita . Tidak ada cahaya sedikit pun, kecuali sorot senter dari ponsel yang entah bagaimana sudah berada di tanganku. Dengan perasaan penasaran bercampur takut, aku mulai merekam keadaan di sekelilingku. Perlahan aku melangkah, mengarahkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Hanya kesunyian yang menyambut. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada suara. Hanya aku dan gelap yang seolah tidak berujung. Namun, saat aku memutar tubuh dan mengarahkan kamera ke belakang, sesuatu muncul dalam rekaman itu. Seorang nenek . Rambutnya pendek, berwarna putih seluruhnya. Wajahnya penuh kerutan, tetapi ada sesuatu yang membuatku terpaku. Wajah itu... sangat mirip denganku. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku membeku. Dalam sekejap rasa takut menguasai diriku. " Aaaaa! " Aku berteriak sekuat tenaga. Tetapi nenek itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam menatap ke arahku. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba terdengar sebuah bisika...

Melepaskan untuk Bertumbuh

Ketika pertama kali aku memutuskan untuk " kehilangan " semua yang aku punya, itu bukan keputusan karena kemauanku sendiri.Aku percaya Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang indah, pada waktu-Nya .  Hari ini adalah waktuku mengembangkan potensi . Semua yang selama ini aku pendam, sekarang aku keluarkan satu-satu. Dulu aku memendam bukan karena malas. Tapi keadaan dan situasi yang menekan mental + trauma , membuatku harus berpura-pura kuat dan bahagia.  Padahal di balik itu semua, aku punya sesuatu yang selalu kuinginkan. Tapi isi hatiku terus berteriak, " Tolong keluarkan aku dari sini. " Bukan karena aku tidak bersyukur. Justru masa-masa itulah yang mengajariku untuk selalu bersyukur dan belajar berbagi. Satu impianku setelah terlepas dari semua itu: mengembangkan potensiku. Menggunakan semua ide-ide yang dulu dianggap sampah , atau selalu diabaikan orang. Sekarang tiada kata malu lagi. Pekerjaan yang aku lakukan berdiri dari ideku sendiri. Dan aku belajar mengapr...

Orang akan Memandangmu ketika kau di atas

Hari ini aku kepikiran satu hal: orang-orang ternyata baru menoleh kalau kita sudah di atas . Selama ini mereka diam. Nggak ada kabar, nggak ada tanya. Seolah hidupku ya hidupku, hidupnya ya hidupnya . Tapi begitu hasil kerja kerasku mulai kelihatan, tiba-tiba banyak yang mengabari. Chat masuk, ada yang minta tolong , ada yang pura-pura dekat banget kayak sedekat nadi . Padahal dulu cueknya bukan main. Dari situ aku belajar satu hal. Nggak semua orang perlu tahu kabarku. Nggak semua cerita harus dibagi.   Sekarang prinsipku simple: kalau mereka benar-benar mencari, akan aku jawab dengan baik. Tapi kalau aku nggak dicari, ya sudah. Aku abaikan aja.  Karena jujur , kita semua masih berjuang kan? Hidup belum ada yang sempurna. Aku, kamu, mereka... semua lagi berusaha biar hidupnya layak dan bahagia. Jadi wajar kalau sekarang aku pilih jaga energi dan fokus ke diriku sendiri dulu. Sekian catatan hari ini.

Mendoakan Dari Jauh

Ada masa dimana kita pengen banget " nyadarin " seseorang.   Pengen teriak: "Hei, sadar dong! Kamu salah jalan!" Tapi lama-lama kita belajar...   Kesadaran itu nggak bisa dipaksa. Sekeras apapun kita ngomel, sekuat apapun kita narik, kalau hatinya belum mau buka, ya tetep ketutup. Jadi aku milih diam .   Bukan karena nggak peduli .   Justru karena terlalu sayang... sayang sampai takut kalau kata-kataku malah bikin dia tersinggung dan makin jauh. Akhirnya aku cuma bisa 1 hal: Mendoakan dari jauh. Mendoakan yang terbaik untuknya.   Mendoakan biar suatu hari dia ngerasain "klik" di hatinya.   Mendoakan biar dia berani jujur sama dirinya sendiri, mengaku dosa, minta ampun sama Tuhan.   Atas semua yang sengaja dia lakuin, maupun yang nggak sengaja. Mungkin bukan hari ini.   Mungkin bukan besok.   Mungkin juga bukan minggu depan. Tapi aku setia nunggu.   Aku percaya... Waktu Tuhan selalu yang p...

Bisikan yang Menjadi Nyata

  Masih ingat 5 bulan lalu ?  Aku duduk dengannya, ngobrol panjang soal isi mimpi yang rasanya mustahil. Aku cerita, dia dengerin. Tentang bisikan-bisikan kecil yang datang di sela sunyi... bisikan yang bilang, " Nanti akan ada waktunya ." Waktu itu aku cuma ketawa kecil. Anggap aja bunga tidur. Tapi ternyata, mimpi itu nggak pernah bohong. Dan benar saja. Bulan April ini, baru kusadari satu kalimat yang pernah meluncur dari mulutku sendiri: "Antara bulan 3 dan 4 nanti, itulah titik kehancuran ." Aku yang ngomong. Aku yang nggak sadar. Seolah ada versi diriku yang lain, berbisik dari jauh, memperingatkan apa yang akan datang . Mereka nggak pernah menyentuhku. Nggak ada luka fisik, nggak ada bentakan yang terdengar tetangga. Tapi sakitnya... sakitnya diam-diam .  Sakit mental yang datang pelan-pelan, seperti air yang menetes di batu. Nggak terasa sekali, tapi lama-lama berlubang. Mungkin mereka nggak sadar. Mungkin itu cuma candaan, ucapan, atau tatapan yang disepe...

Tenang Setelah Keputusan Diambil & Kuasa Doa

Hai.. Hari ini aku semakin merasa tenang.  Kekhawatiran di dada itu rasanya pelan-pelan berkurang, sejak keputusan itu akhirnya aku ambil.  Tapi ya namanya manusia, kendalanya masih sisa 1: denda .   Aku masih takut, takut kalau nanti akan dikenakan denda. Dan aku sangat berharap, berdoa sungguh-sungguh, semoga denda yang dipatokkan nanti nggak sebesar yang aku kira. Kalau bisa, nggak ada denda sama sekali. Tuhan dengar ya doa orang yang pasrah ini 😔 Kembali ke topik utama... Beberapa hari ini aku dihadapkan sama keputusan-keputusan yang berat banget. Rasanya kayak di persimpangan, kiri kanan sama-sama bikin ragu. Tapi aku percaya. Aku percaya hanya pada rancangan TUHAN YESUS . Pasti yang TERBAIK untuk aku, untuk kamu, untuk kita semua.  Aku masih belajar mendalami agama Kekristenan. Maaf ya kalau banyak yang bilang aku "Kristen mula-mula" yang masih menggebu-gebu. Masih awal-awal sih, nanti juga udah nggak...  Sebenarnya aku takut. Iya, takut. Takut kala...

Gengsi Tinggi itu Bumerang, Pelan - pelan kita Rugi Sendiri

 Hai semua, selamat malam  Catatanharianati 😊 Malam ini aku mau curhat dikit. Nggak tau kenapa, kepikiran aja tentang " gengsi ". Banyak di antara kita yang gengsinya ketinggian. Kemakan gengsi sendiri. Maunya dihargai, maunya menang sendiri, maunya semua serba " aku ". Parahnya lagi, ada yang nggak mau ngaku kalau ide atau sistem kerjanya itu dapet dari orang lain. Padahal rekan dekatnya yang ngajarin. Tapi pas berhasil, dia doang yang dibanggain. Hasilnya diklaim sendiri. Bahkan ada yang sampe memperbudak orang lain. Manfaatin kelemahan orang buat kepentingan pribadi.  Yang disayangkan tuh bukan orang yang nggak diakuin itu. Mereka ikhlas, mereka sabar.  Yang kasihan justru mereka yang sibuk nyombongin diri. Pamer sana-sini. Padahal tanpa sadar, orang di luar sana udah ngasih nilai dari pertama kali kenal. Gengsi itu kayak bumerang . Kita lempar ke orang, baliknya ke diri sendiri. Lama-lama capek, lama-lama nggak ada yang mau deket. Aku juga masih belajar bua...

Tentang Aku

Halo! Aku Putri , tapi kerap dipanggil Ati . Itu nama panggilan dari Kakek aku dulu 😊 Selamat datang di Catatanharianati . Blog kecil ini aku buat nyatet kegiatan sehari-hari, resep masakan sederhana, tips hemat ibu rumah tangga, sama cerita suka duka yang aku alamin. Aku masih belajar ngeblog dari nol. Nggak jago nulis, kadang typo juga hehe. Tapi aku mau konsisten nulis, siapa tau ada yang relate sama cerita aku. Makasih ya udah mampir ke blog aku. Semoga betah dan bisa ambil manfaat kecil di sini. Salam hangat, Ati

Hubungi Kami

Halo! Senang kamu mampir ke Catatanharianati . Kalau ada pertanyaan, saran topik, kerjasama, atau sekedar mau kenalan, silakan hubungi aku lewat email ya: Email: Putriau0306@gmail.com Aku biasanya bales email 1x24 jam.  Makasih udah mau mampir dan ngobrol ya 😊 Salam, Ati - Catatanharianati

Kebijakan Privasi

 Kebijakan Privasi untuk Catatanharianati Privasi pengunjung Catatanharianati sangat penting bagi kami. Informasi yang Dikumpulkan Catatanharianati menggunakan layanan pihak ketiga seperti Google Analytics dan Google AdSense yang dapat mengumpulkan informasi seperti alamat IP, jenis browser, dan halaman yang dikunjungi untuk keperluan analitik dan iklan. Cookie Kami menggunakan cookie untuk menyimpan informasi tentang preferensi pengunjung dan interaksi dengan situs. Anda dapat menonaktifkan cookie melalui pengaturan browser Anda. Iklan Kami menggunakan Google AdSense sebagai layanan iklan pihak ketiga. Google dapat menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan Anda sebelumnya ke situs kami dan situs lain di internet. Kontak Jika ada pertanyaan tentang Kebijakan Privasi ini, silakan hubungi kami melalui halaman Hubungi Kami. Terakhir diperbarui: 8 Juni 2026

Kenalan Yuk ini cerita aku mulai ngeblog

Hai hai hai everyone.. Pekenalkan namaku Putri kerap kali di panggil Ati. Nama panggilan pemberian Kakek ku dulu. Selamat datang di Blog Catatanharianati, blog kecil tempat aku berbagi cerita tentang kisah,pengalaman,serta tragedi yang ku alami. Sebenarnya udah lama banget aku pengen punya blog sendiri. Dimana dulu sering baca - baca blog orang lain tentang tips dan trik serta kisah kehidupan sehari - hari. Rasanya seru banget bisa baca tulisan orang dari rumah. Akhirnya di tahun 2026 ini aku memberanikan diri buat nulis sendiri.  Kenapa namanya Catatanharianati ? Karena memang isinya Catatan harian aku. Aku bukan penulis hebat, nggak punya skill dan disini aku baru saja memulai. Tapi aku mau coba konsisten nulis. Siapa tahu ada yang relate dengan cerita aku, atau bisa ambil manfaat kecil dari tulisan aku. Di blog ini aku rencananya mau nulis tentang apa saja yang aku alami. Bisa tentang persiapan menjadi seorang ibu, terlepas dari masa lalu yang kelam, hingga mimpi dan doa yang t...