Beberapa hari belakangan ini, tidur terasa menjadi sesuatu yang begitu sulit kuraih.
Tubuhku memang berbaring di atas kasur, tetapi pikiranku terus berjalan ke mana-mana. Ada begitu banyak hal yang datang silih berganti, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar selesai dalam hidupku.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah ini karena terlalu banyak masalah yang kutinggalkan tanpa penyelesaian? Terlalu banyak cerita yang berakhir begitu saja. Tidak ada penjelasan, tidak ada kata perpisahan yang baik, bahkan tidak ada kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami.
Aku memilih pergi.
Mungkin saat itu aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diriku sendiri, tanpa menyadari bahwa kepergianku mungkin meninggalkan luka di hati orang lain.
Semakin malam, semakin banyak kenangan yang bermunculan.
Wajah-wajah yang pernah hadir dalam hidupku datang silih berganti memenuhi ingatan. Ada rasa bersalah, ada penyesalan, dan ada kepahitan yang hingga hari ini masih sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Mungkin karena itulah aku menulis.
Di sini, aku merasa bebas untuk bercerita. Tanpa harus berpura-pura kuat. Tanpa takut dihakimi. Tanpa harus menyembunyikan air mata yang sering kali jatuh begitu saja. Tulisan-tulisan ini menjadi saksi bahwa pernah ada seseorang yang berusaha bertahan, meski hatinya berkali-kali ingin menyerah.
Namun, satu hal yang paling kurasakan saat ini adalah sulitnya tidur.
Hal sederhana yang dulu terasa begitu mudah, kini menjadi perjuangan setiap malam. Aku rindu masa ketika kepalaku menyentuh bantal, lalu beberapa menit kemudian aku sudah tertidur pulas. Aku rindu diriku yang dulu. Sebelum semua pengalaman itu mengubahku. Sebelum tempat itu mengajarkanku begitu banyak rasa sakit, kehilangan, dan ketakutan yang diam-diam masih kubawa hingga hari ini.
Sejak saat itu, ada sesuatu dalam diriku yang berubah.
Aku menjadi lebih banyak berpikir. Lebih banyak mengingat. Lebih sering terjaga saat dunia sedang terlelap. Namun di balik semua kegelisahan ini, aku menyadari satu hal. Masih ada mimpi-mimpi yang belum selesai. Masih ada impian yang pernah kutuliskan dengan penuh keyakinan. Masih ada cita-cita yang belum sempat kugapai. Mungkin rasa gelisah ini bukan hanya tentang luka masa lalu. Mungkin ini adalah pengingat bahwa hidupku belum selesai.
Bahwa Tuhan masih memberiku waktu untuk bangkit, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, memaafkan apa yang harus dimaafkan, dan melangkah menuju masa depan yang masih menungguku.
Aku tidak tahu kapan malam-malam tanpa tidur ini akan berakhir.
Tetapi aku berharap, suatu hari nanti, ketika semua luka mulai sembuh dan semua beban perlahan terlepas, aku bisa kembali memejamkan mata dengan tenang.
Bukan karena hidupku telah sempurna.
Melainkan karena akhirnya aku berdamai dengan masa lalu, menerima diriku apa adanya, dan berani melangkah menuju mimpi-mimpi yang selama ini masih menungguku.
Komentar
Posting Komentar