Langsung ke konten utama

Ketika Jiwaku Ternyata Sedang Kelaparan

Hari ini, hatiku dipenuhi rasa syukur yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ada sukacita yang begitu besar, sekaligus rasa haru yang membuatku menyadari satu hal penting yang selama ini luput dari perhatianku.

Selama beberapa waktu terakhir, aku terus bertanya-tanya mengapa ada kekosongan yang begitu dalam di dalam diriku. Aku merasa baik-baik saja, menjalani hari seperti biasa, berbicara, tertawa, dan bertemu banyak orang. Namun, entah mengapa ada bagian dari diriku yang terasa hilang.

Aku hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani. Makan, beristirahat, dan menjalani rutinitas seperti biasa. Tetapi aku lupa bahwa ada bagian lain dari diriku yang juga membutuhkan makanan. Jiwaku.

Kini aku mengerti bahwa bukan tubuhku yang sedang kelaparan, melainkan rohaniku yang sudah terlalu lama tidak benar-benar diberi makan.

Tak heran jika setiap kali berkumpul dengan orang lain, pandanganku sering kosong. Tubuhku hadir, tetapi pikiranku melayang entah ke mana. Mata ini melihat ke kanan dan ke kiri tanpa arah. Percakapan demi percakapan berlalu begitu saja, sementara aku tertinggal di dalam pikiranku sendiri.

Aku terus mencari apa yang hilang, padahal jawabannya sudah pernah terlintas di benakku. Hanya saja, aku tidak segera melakukannya. Hari ini, Tuhan seolah menegurku dengan cara yang begitu lembut, tetapi terasa seperti tamparan yang membangunkanku dari tidur panjang.

Aku dipertemukan kembali dengan seorang wanita tangguh yang pernah kulihat sebelumnya. Saat aku duduk sebelum ibadah dimulai, tanpa alasan yang bisa kujelaskan, pandanganku langsung tertuju kepadanya. Ada sesuatu yang membuat hatiku tergerak.

Lalu ketika firman Tuhan disampaikan, aku benar-benar merasakan bahwa setiap isi khotbah, setiap ayat yang dibacakan, dan setiap penjelasan yang diberikan begitu mudah kupahami. Firman itu tidak hanya masuk ke telingaku, tetapi juga sampai ke dalam hatiku.

Sudah hampir satu tahun lamanya aku merindukan momen seperti ini. Aku merindukan cara penyampaian firman yang mampu membuatku merenung, memahami isi ayat lebih dalam, dan membawa pulang sesuatu yang bisa terus kupikirkan setelah ibadah selesai.

Selama ini, aku sering merasa kosong ketika pulang dari tempat ibadah. Ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Namun hari ini aku juga belajar satu hal yang penting.

Bukan berarti ada yang salah dengan tempat ibadahku sekarang. Bukan berarti cara seseorang menyampaikan firman Tuhan itu kurang baik. Setiap hamba Tuhan memiliki cara yang berbeda-beda dalam melayani. Mungkin selama ini yang perlu diubah bukanlah tempatnya, bukan pula pengkhotbahnya.

Melainkan hatiku. Hatiku yang perlu lebih terbuka untuk menerima bahwa Tuhan dapat berbicara melalui siapa saja dan dengan cara apa saja. Terkadang aku terlalu terpaku pada cara yang kusukai, hingga lupa bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang berbicara, melainkan apakah aku benar-benar siap mendengarkan suara-Nya.

Hari ini aku pulang dengan hati yang jauh lebih penuh daripada saat aku datang. Dan aku berharap, mulai hari ini, aku tidak lagi hanya sibuk memberi makan tubuhku, tetapi juga setia memberi makan jiwaku. Karena ternyata, jiwa yang kenyang oleh firman Tuhan mampu menghidupkan kembali hati yang selama ini terasa kosong.

Sampai di sini dulu catatan hari ini. Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Persimpangan yang Tak Terlihat

Hai, sobatku. Pernahkah kalian merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan ? Bukan persimpangan jalan yang bisa dilihat mata, melainkan persimpangan dalam hidup. Tempat di mana sebuah pilihan yang terlihat sederhana justru terasa begitu rumit untuk diputuskan . Aku sedang berada di titik itu. Sebuah keputusan yang bukan hanya tentang memilih langkah, tetapi juga tentang memilih akan menjadi pribadi seperti apa setelahnya. Karena terkadang, satu perubahan kecil mampu mengubah banyak hal dalam hidup . Cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan orang-orang yang tetap memilih tinggal atau perlahan menjauh. Yang paling melelahkan bukanlah memilih. Melainkan kebingungan yang datang sebelum keputusan itu dibuat. Rasanya seperti tubuhku ada di satu tempat, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Saat sedang mengobrol, tertawa, atau berkumpul dengan orang lain, pikiranku justru sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. Aku tersenyum, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak pertanyaan y...

Kenalan Yuk ini cerita aku mulai ngeblog

Hai hai hai everyone.. Pekenalkan namaku Putri kerap kali di panggil Ati. Nama panggilan pemberian Kakek ku dulu. Selamat datang di Blog Catatanharianati, blog kecil tempat aku berbagi cerita tentang kisah,pengalaman,serta tragedi yang ku alami. Sebenarnya udah lama banget aku pengen punya blog sendiri. Dimana dulu sering baca - baca blog orang lain tentang tips dan trik serta kisah kehidupan sehari - hari. Rasanya seru banget bisa baca tulisan orang dari rumah. Akhirnya di tahun 2026 ini aku memberanikan diri buat nulis sendiri.  Kenapa namanya Catatanharianati ? Karena memang isinya Catatan harian aku. Aku bukan penulis hebat, nggak punya skill dan disini aku baru saja memulai. Tapi aku mau coba konsisten nulis. Siapa tahu ada yang relate dengan cerita aku, atau bisa ambil manfaat kecil dari tulisan aku. Di blog ini aku rencananya mau nulis tentang apa saja yang aku alami. Bisa tentang persiapan menjadi seorang ibu, terlepas dari masa lalu yang kelam, hingga mimpi dan doa yang t...

Mendoakan Dari Jauh

Ada masa dimana kita pengen banget " nyadarin " seseorang.   Pengen teriak: "Hei, sadar dong! Kamu salah jalan!" Tapi lama-lama kita belajar...   Kesadaran itu nggak bisa dipaksa. Sekeras apapun kita ngomel, sekuat apapun kita narik, kalau hatinya belum mau buka, ya tetep ketutup. Jadi aku milih diam .   Bukan karena nggak peduli .   Justru karena terlalu sayang... sayang sampai takut kalau kata-kataku malah bikin dia tersinggung dan makin jauh. Akhirnya aku cuma bisa 1 hal: Mendoakan dari jauh. Mendoakan yang terbaik untuknya.   Mendoakan biar suatu hari dia ngerasain "klik" di hatinya.   Mendoakan biar dia berani jujur sama dirinya sendiri, mengaku dosa, minta ampun sama Tuhan.   Atas semua yang sengaja dia lakuin, maupun yang nggak sengaja. Mungkin bukan hari ini.   Mungkin bukan besok.   Mungkin juga bukan minggu depan. Tapi aku setia nunggu.   Aku percaya... Waktu Tuhan selalu yang p...