Langsung ke konten utama

Tenang Setelah Keputusan Diambil & Kuasa Doa

Hai.. Hari ini aku semakin merasa tenang.  Kekhawatiran di dada itu rasanya pelan-pelan berkurang, sejak keputusan itu akhirnya aku ambil. 

Tapi ya namanya manusia, kendalanya masih sisa 1: denda.  

Aku masih takut, takut kalau nanti akan dikenakan denda. Dan aku sangat berharap, berdoa sungguh-sungguh, semoga denda yang dipatokkan nanti nggak sebesar yang aku kira. Kalau bisa, nggak ada denda sama sekali. Tuhan dengar ya doa orang yang pasrah ini 😔

Kembali ke topik utama...

Beberapa hari ini aku dihadapkan sama keputusan-keputusan yang berat banget. Rasanya kayak di persimpangan, kiri kanan sama-sama bikin ragu.

Tapi aku percaya. Aku percaya hanya pada rancangan TUHAN YESUS. Pasti yang TERBAIK untuk aku, untuk kamu, untuk kita semua. 

Aku masih belajar mendalami agama Kekristenan. Maaf ya kalau banyak yang bilang aku "Kristen mula-mula" yang masih menggebu-gebu. Masih awal-awal sih, nanti juga udah nggak... 

Sebenarnya aku takut. Iya, takut. Takut kalau api di awal ini padam. Takut cuma semangat di depan aja, tapi ke belakangnya kendor.

Tapi kembali lagi ke topik utama: aku tetap percaya dan berusaha keras. Semua kata-kata yang bikin down itu nggak akan terjadi. Aku berharap penuh sama diriku sendiri untuk KONSISTEN dalam Kekristenan. Sulit? Iya. Tapi kalau bersama TUHAN YESUS, kita pasti sanggup. 

Percayalah, Ia nggak akan meninggalkanmu. Nggak akan membiarkanmu jalan sendirian.  

Dulu aku pikir aku nggak punya tempat untuk pulang. Tapi sejak kenal sosok TUHAN YESUS, SANG JURUSLAMAT, aku tahu harus pulang ke mana. Saat suka maupun duka.

Sedikit kesaksian...

Selama ini aku menjalani Puasa 40 hari. Ini udah pertengahan, dan akan berakhir tepat akhir bulan Maret ini. Pas pertengahan, aku dikasih "peringatan" lewat mimpi. Waktu aku tanya maksudnya apa, jawabannya masih 50:50. Aku bawa terus dalam doa, dalam renungan. Ini jawaban doa... atau cuma karena aku lagi khawatir banget ya?

Yah... tepat tanggal 16 kemarin, aku akhirnya ajukan resign.  

Peringatan itu datang lagi: katanya akan dipindah ke PH. Aku udah prepare mau ajukan akhir bulan, tapi karena dengar kabar itu jadi aku cepetin. Aku nggak mau sampai tiket dibeli, terus aku ditekan biaya besar buat ganti rugi.

Setelah surat resign aku kasih, lega sekali rasanya. Hm... benar, lega. Karena yang paling aku khawatirkan itu Mama dan anakku. 

Kondisi Mama sekarang udah nggak memungkinkan jalan jauh, udah nggak bisa naik kereta buat bonceng cucunya. Jadi tugas itu harus aku yang ambil alih. Dulu Mama sanggup kerja, besarkan 2 anak, masih ada 1 anak angkat + orang tuanya. Masa aku cuma ngurus Mama + anakku aja nggak bisa? Pasti bisa. Aku yakin 100% TUHAN YESUS punya jalan untuk hambanya yang percaya.

Btw cerita lucu dikit ya...

Tadi aku bilang ke anakku: "Nanti kalau Mama udah di rumah, bobo dulu ya. Terus kita ke gereja ya dek, bawa Pho kita ke gereja bertiga ayo mau?" 

"Iya Ma" katanya. 

Terus aku bilang "Kasih tangan okenya dong" 

Dia malah jawab: "Tak ada tangan oke" wkwk 😂

Emang ya udah bijak kali anakku ini. Pas aku bilang mau masukin dia sekolah, dia jawab: "Ma.. Dede udah besar lah nggak sekolah" blablabla. Takut banget dia sekolah 😅

Tapi aku percaya TUHAN punya cara buat pulihkan anakku. Aku percaya anakku akan takut akan TUHAN, sesuai didikan & ajaran. Aku wajib perbaiki diri dulu, jadi contoh buat dia. Selama ini dia tinggal sama Pho. Aku percaya Mama pasti bisa aku tuntun buat ikut percaya bahwa TUHAN yang aku percaya adalah BAPA yang KEKAL & HIDUP, yang rela menebus dosa-dosa kita dan mengampuni kita orang berdosa. AMIN.



See you dear...  

Love you. GOD BLES YOU✨


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Persimpangan yang Tak Terlihat

Hai, sobatku. Pernahkah kalian merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan ? Bukan persimpangan jalan yang bisa dilihat mata, melainkan persimpangan dalam hidup. Tempat di mana sebuah pilihan yang terlihat sederhana justru terasa begitu rumit untuk diputuskan . Aku sedang berada di titik itu. Sebuah keputusan yang bukan hanya tentang memilih langkah, tetapi juga tentang memilih akan menjadi pribadi seperti apa setelahnya. Karena terkadang, satu perubahan kecil mampu mengubah banyak hal dalam hidup . Cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan orang-orang yang tetap memilih tinggal atau perlahan menjauh. Yang paling melelahkan bukanlah memilih. Melainkan kebingungan yang datang sebelum keputusan itu dibuat. Rasanya seperti tubuhku ada di satu tempat, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Saat sedang mengobrol, tertawa, atau berkumpul dengan orang lain, pikiranku justru sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. Aku tersenyum, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak pertanyaan y...

Kenalan Yuk ini cerita aku mulai ngeblog

Hai hai hai everyone.. Pekenalkan namaku Putri kerap kali di panggil Ati. Nama panggilan pemberian Kakek ku dulu. Selamat datang di Blog Catatanharianati, blog kecil tempat aku berbagi cerita tentang kisah,pengalaman,serta tragedi yang ku alami. Sebenarnya udah lama banget aku pengen punya blog sendiri. Dimana dulu sering baca - baca blog orang lain tentang tips dan trik serta kisah kehidupan sehari - hari. Rasanya seru banget bisa baca tulisan orang dari rumah. Akhirnya di tahun 2026 ini aku memberanikan diri buat nulis sendiri.  Kenapa namanya Catatanharianati ? Karena memang isinya Catatan harian aku. Aku bukan penulis hebat, nggak punya skill dan disini aku baru saja memulai. Tapi aku mau coba konsisten nulis. Siapa tahu ada yang relate dengan cerita aku, atau bisa ambil manfaat kecil dari tulisan aku. Di blog ini aku rencananya mau nulis tentang apa saja yang aku alami. Bisa tentang persiapan menjadi seorang ibu, terlepas dari masa lalu yang kelam, hingga mimpi dan doa yang t...

Mendoakan Dari Jauh

Ada masa dimana kita pengen banget " nyadarin " seseorang.   Pengen teriak: "Hei, sadar dong! Kamu salah jalan!" Tapi lama-lama kita belajar...   Kesadaran itu nggak bisa dipaksa. Sekeras apapun kita ngomel, sekuat apapun kita narik, kalau hatinya belum mau buka, ya tetep ketutup. Jadi aku milih diam .   Bukan karena nggak peduli .   Justru karena terlalu sayang... sayang sampai takut kalau kata-kataku malah bikin dia tersinggung dan makin jauh. Akhirnya aku cuma bisa 1 hal: Mendoakan dari jauh. Mendoakan yang terbaik untuknya.   Mendoakan biar suatu hari dia ngerasain "klik" di hatinya.   Mendoakan biar dia berani jujur sama dirinya sendiri, mengaku dosa, minta ampun sama Tuhan.   Atas semua yang sengaja dia lakuin, maupun yang nggak sengaja. Mungkin bukan hari ini.   Mungkin bukan besok.   Mungkin juga bukan minggu depan. Tapi aku setia nunggu.   Aku percaya... Waktu Tuhan selalu yang p...