Masih ingat 5 bulan lalu?
Aku duduk dengannya, ngobrol panjang soal isi mimpi yang rasanya mustahil. Aku cerita, dia dengerin. Tentang bisikan-bisikan kecil yang datang di sela sunyi... bisikan yang bilang, "Nanti akan ada waktunya."
Waktu itu aku cuma ketawa kecil. Anggap aja bunga tidur. Tapi ternyata, mimpi itu nggak pernah bohong.
Dan benar saja. Bulan April ini, baru kusadari satu kalimat yang pernah meluncur dari mulutku sendiri: "Antara bulan 3 dan 4 nanti, itulah titik kehancuran."
Aku yang ngomong. Aku yang nggak sadar. Seolah ada versi diriku yang lain, berbisik dari jauh, memperingatkan apa yang akan datang.
Mereka nggak pernah menyentuhku. Nggak ada luka fisik, nggak ada bentakan yang terdengar tetangga. Tapi sakitnya... sakitnya diam-diam.
Sakit mental yang datang pelan-pelan, seperti air yang menetes di batu. Nggak terasa sekali, tapi lama-lama berlubang. Mungkin mereka nggak sadar. Mungkin itu cuma candaan, ucapan, atau tatapan yang disepelekan. Tapi buatku, rasanya seperti runtuh pelan-pelan.
Titik kehancuran itu bukan soal barang yang pecah. Tapi soal hati yang retak tanpa suara.
Sekarang aku baru paham. Ternyata bisikan itu nyata. Mimpi itu peringatan. Dan aku... aku cuma perlu belajar berdiri lagi dari reruntuhannya.
Komentar
Posting Komentar