Ada satu kerinduan yang akhir-akhir ini terus memenuhi hatiku. Aku rindu saat Tuhan membangunkanku di pukul tiga dini hari. Bukan karena aku ingin kembali merasakan beratnya hidup, tetapi karena di waktu itulah aku merasa begitu dekat dengan-Nya. Saat dunia masih terlelap, hanya ada aku, air mata, dan doa-doa yang mengalir tanpa mampu lagi kutahan.
Kini aku semakin mengerti, terkadang Tuhan mengizinkan kita melewati begitu banyak masalah, kesulitan, bahkan kehancuran. Bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan untuk menarik kita kembali mendekat kepada-Nya. Dia mengingatkan kita agar kembali berlutut. Bukan karena setelah berdoa semua masalah akan langsung selesai. Tidak.
Kenyataannya, banyak persoalan tetap ada. Namun ada sesuatu yang selalu Tuhan berikan setelah setiap doa yang tulus: damai yang sulit dijelaskan, ketenangan yang tak bisa dibeli, dan sukacita yang tetap bertahan meski badai belum reda. Aku rindu sentuhan itu. Aku rindu hentakan kecil dalam hati yang seolah berkata, "Bangunlah... Aku menunggumu."
Doa-doa di waktu subuh selalu mengingatkanku pada masa-masa paling gelap dalam hidupku. Masa ketika rasa sakit harus kusimpan rapat-rapat. Masa ketika aku harus tersenyum, padahal di dalam diriku ada begitu banyak luka yang belum sempat sembuh.
Saat orang bertanya, "Are you okay?" Aku hanya mampu menjawab, "Aku rindu anakku dan mamaku." Padahal jauh di dalam hati, masih ada begitu banyak kejujuran yang tak mampu kuucapkan. Aku tahu, jika semuanya terungkap, akan ada konsekuensi yang harus kuhadapi. Maka aku memilih diam, menyimpan semuanya seorang diri.
Tetapi hari ini aku bersyukur. Aku menemukan tempat untuk mencurahkan semua isi hatiku. Di sini, dalam setiap tulisan dan setiap doa, aku belajar jujur tentang apa yang sebenarnya kurasakan. Saat bahagia maupun terluka, aku membawa semuanya kepada Tuhan. Aku masih mengingat setiap doa subuh itu.
Tangisku pecah tanpa bisa kutahan. Isak tangisku terdengar oleh beberapa orang yang berada di kamar yang sama. Tak seorang pun berkata apa-apa. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena kami sama-sama sedang berjuang dengan luka kami masing-masing. Kami sama-sama belajar menyembunyikan rasa sakit.
Kami sama-sama memikul trauma yang mungkin tak pernah dimengerti oleh orang lain. Dan di tengah keheningan itu, aku sadar... Kadang Tuhan tidak mengubah keadaan seketika. Namun Dia menguatkan hati yang hampir menyerah. Dia memeluk jiwa yang lelah. Dia menghapus air mata yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun.
Tuhan... Jika suatu hari nanti Engkau kembali membangunkanku di jam tiga subuh, izinkan aku tidak mengabaikan panggilan-Mu. Karena aku tahu, di balik setiap doa yang dipanjatkan sebelum fajar menyingsing, selalu ada kasih-Mu yang sedang memulihkan hatiku, sedikit demi sedikit.
Komentar
Posting Komentar