Langsung ke konten utama

Ketika Menjauh Adalah Pilihan Terbaik

 Ada satu hal yang belakangan ini sering terlintas di pikiranku.

Sebagai manusia, kita semua pasti pernah berbuat salah. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar sempurna. Kadang tanpa sadar kita memiliki ego yang begitu besar, merasa pendapat kitalah yang paling benar, memandang rendah orang lain, dan menilai segala sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, terkadang kita begitu mudah percaya pada cerita yang belum tentu benar. Mendengar satu sisi, lalu langsung mengambil kesimpulan. Menghakimi tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Aku belajar bahwa ada orang-orang yang, sekeras apa pun kita mencoba menjelaskan, tetap tidak akan mau mendengarkan. Bukan karena kita kurang jelas berbicara, tetapi karena hati dan pikirannya sudah tertutup oleh keyakinan yang ia bangun sendiri.

Di saat seperti itu, aku menyadari bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahpahaman harus dipaksa untuk diluruskan saat itu juga.

Kadang, jalan terbaik adalah memilih untuk pergi. Bukan karena menyerah, bukan pula karena membenci, melainkan karena kita tahu bahwa memaksakan diri tetap tinggal hanya akan melukai kedua belah pihak.

Biarkan waktu yang bekerja.

Biarkan kehidupan mengajarkan pelajaran yang mungkin tidak bisa kita sampaikan dengan kata-kata.

Dan jika suatu hari nanti ia menyadari bahwa apa yang selama ini ia lakukan ternyata keliru, jangan menyambutnya dengan amarah atau rasa ingin membalas. Sambutlah dengan hati yang lapang. Rangkul ia sebagaimana kita ingin dirangkul ketika melakukan kesalahan.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang sedang belajar. Manusia yang terkadang jatuh, salah langkah, dan tersesat dalam penilaian sendiri.

Tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang mau belajar dari kesalahannya dan berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa memaafkan selalu terasa lebih indah daripada membenci.

Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Persimpangan yang Tak Terlihat

Hai, sobatku. Pernahkah kalian merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan ? Bukan persimpangan jalan yang bisa dilihat mata, melainkan persimpangan dalam hidup. Tempat di mana sebuah pilihan yang terlihat sederhana justru terasa begitu rumit untuk diputuskan . Aku sedang berada di titik itu. Sebuah keputusan yang bukan hanya tentang memilih langkah, tetapi juga tentang memilih akan menjadi pribadi seperti apa setelahnya. Karena terkadang, satu perubahan kecil mampu mengubah banyak hal dalam hidup . Cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan orang-orang yang tetap memilih tinggal atau perlahan menjauh. Yang paling melelahkan bukanlah memilih. Melainkan kebingungan yang datang sebelum keputusan itu dibuat. Rasanya seperti tubuhku ada di satu tempat, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Saat sedang mengobrol, tertawa, atau berkumpul dengan orang lain, pikiranku justru sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. Aku tersenyum, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak pertanyaan y...

Kenalan Yuk ini cerita aku mulai ngeblog

Hai hai hai everyone.. Pekenalkan namaku Putri kerap kali di panggil Ati. Nama panggilan pemberian Kakek ku dulu. Selamat datang di Blog Catatanharianati, blog kecil tempat aku berbagi cerita tentang kisah,pengalaman,serta tragedi yang ku alami. Sebenarnya udah lama banget aku pengen punya blog sendiri. Dimana dulu sering baca - baca blog orang lain tentang tips dan trik serta kisah kehidupan sehari - hari. Rasanya seru banget bisa baca tulisan orang dari rumah. Akhirnya di tahun 2026 ini aku memberanikan diri buat nulis sendiri.  Kenapa namanya Catatanharianati ? Karena memang isinya Catatan harian aku. Aku bukan penulis hebat, nggak punya skill dan disini aku baru saja memulai. Tapi aku mau coba konsisten nulis. Siapa tahu ada yang relate dengan cerita aku, atau bisa ambil manfaat kecil dari tulisan aku. Di blog ini aku rencananya mau nulis tentang apa saja yang aku alami. Bisa tentang persiapan menjadi seorang ibu, terlepas dari masa lalu yang kelam, hingga mimpi dan doa yang t...

Mendoakan Dari Jauh

Ada masa dimana kita pengen banget " nyadarin " seseorang.   Pengen teriak: "Hei, sadar dong! Kamu salah jalan!" Tapi lama-lama kita belajar...   Kesadaran itu nggak bisa dipaksa. Sekeras apapun kita ngomel, sekuat apapun kita narik, kalau hatinya belum mau buka, ya tetep ketutup. Jadi aku milih diam .   Bukan karena nggak peduli .   Justru karena terlalu sayang... sayang sampai takut kalau kata-kataku malah bikin dia tersinggung dan makin jauh. Akhirnya aku cuma bisa 1 hal: Mendoakan dari jauh. Mendoakan yang terbaik untuknya.   Mendoakan biar suatu hari dia ngerasain "klik" di hatinya.   Mendoakan biar dia berani jujur sama dirinya sendiri, mengaku dosa, minta ampun sama Tuhan.   Atas semua yang sengaja dia lakuin, maupun yang nggak sengaja. Mungkin bukan hari ini.   Mungkin bukan besok.   Mungkin juga bukan minggu depan. Tapi aku setia nunggu.   Aku percaya... Waktu Tuhan selalu yang p...