Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Jiwaku Ternyata Sedang Kelaparan

Hari ini, hatiku dipenuhi rasa syukur yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ada sukacita yang begitu besar, sekaligus rasa haru yang membuatku menyadari satu hal penting yang selama ini luput dari perhatianku . Selama beberapa waktu terakhir , aku terus bertanya-tanya mengapa ada kekosongan yang begitu dalam di dalam diriku . Aku merasa baik-baik saja, menjalani hari seperti biasa, berbicara, tertawa, dan bertemu banyak orang. Namun, entah mengapa ada bagian dari diriku yang terasa hilang . Aku hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani . Makan, beristirahat, dan menjalani rutinitas seperti biasa . Tetapi aku lupa bahwa ada bagian lain dari diriku yang juga membutuhkan makanan. Jiwaku . Kini aku mengerti bahwa bukan tubuhku yang sedang kelaparan, melainkan rohaniku yang sudah terlalu lama tidak benar-benar diberi makan. Tak heran jika setiap kali berkumpul dengan orang lain, pandanganku sering kosong . Tubuhku hadir, tetapi pikiranku melayang entah ke mana. Mata ini melihat ke...
Postingan terbaru

Di Persimpangan yang Tak Terlihat

Hai, sobatku. Pernahkah kalian merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan ? Bukan persimpangan jalan yang bisa dilihat mata, melainkan persimpangan dalam hidup. Tempat di mana sebuah pilihan yang terlihat sederhana justru terasa begitu rumit untuk diputuskan . Aku sedang berada di titik itu. Sebuah keputusan yang bukan hanya tentang memilih langkah, tetapi juga tentang memilih akan menjadi pribadi seperti apa setelahnya. Karena terkadang, satu perubahan kecil mampu mengubah banyak hal dalam hidup . Cara kita berpikir, cara kita bersikap, bahkan orang-orang yang tetap memilih tinggal atau perlahan menjauh. Yang paling melelahkan bukanlah memilih. Melainkan kebingungan yang datang sebelum keputusan itu dibuat. Rasanya seperti tubuhku ada di satu tempat, tetapi pikiranku berjalan ke mana-mana. Saat sedang mengobrol, tertawa, atau berkumpul dengan orang lain, pikiranku justru sibuk memikirkan berbagai kemungkinan. Aku tersenyum, tetapi di dalam kepala ada begitu banyak pertanyaan y...

Ada Malam-Malam yang Tak Lagi Mengizinkanku Tidur

Beberapa hari belakangan ini, tidur terasa menjadi sesuatu yang begitu sulit kuraih. Tubuhku memang berbaring di atas kasur, tetapi pikiranku terus berjalan ke mana-mana. Ada begitu banyak hal yang datang silih berganti, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar selesai dalam hidupku. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri. Apakah ini karena terlalu banyak masalah yang kutinggalkan tanpa penyelesaian? Terlalu banyak cerita yang berakhir begitu saja. Tidak ada penjelasan, tidak ada kata perpisahan yang baik, bahkan tidak ada kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami. Aku memilih pergi. Mungkin saat itu aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diriku sendiri, tanpa menyadari bahwa kepergianku mungkin meninggalkan luka di hati orang lain. Semakin malam, semakin banyak kenangan yang bermunculan. Wajah-wajah yang pernah hadir dalam hidupku datang silih berganti memenuhi ingatan. Ada rasa bersalah, ada penyesalan, dan ada kepahitan yang hingga hari ini ma...

Tuhan, Aku Rindu Engkau Membangunkanku di Jam 3 Subuh

Ada satu kerinduan yang akhir-akhir ini terus memenuhi hatiku. Aku rindu saat Tuhan membangunkanku di pukul tiga dini hari . Bukan karena aku ingin kembali merasakan beratnya hidup, tetapi karena di waktu itulah aku merasa begitu dekat dengan-Nya . Saat dunia masih terlelap, hanya ada aku, air mata, dan doa-doa yang mengalir tanpa mampu lagi kutahan. Kini aku semakin mengerti, terkadang Tuhan mengizinkan kita melewati begitu banyak masalah, kesulitan, bahkan kehancuran. Bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan untuk menarik kita kembali mendekat kepada-Nya. Dia mengingatkan kita agar kembali berlutut . Bukan karena setelah berdoa semua masalah akan langsung selesai. Tidak.  Kenyataannya, banyak persoalan tetap ada. Namun ada sesuatu yang selalu Tuhan berikan setelah setiap doa yang tulus: damai yang sulit dijelaskan, ketenangan yang tak bisa dibeli, dan sukacita yang tetap bertahan meski badai belum reda. Aku rindu sentuhan itu . Aku rindu hentakan kecil dalam hati yang seo...

Ternyata, Selama Ini Aku Hanya Pandai Berpura-Pura

Ada hari-hari di mana aku tersenyum, bercanda, dan terlihat baik-baik saja. Orang-orang mengira hidupku berjalan seperti biasa. Namun, hanya aku yang tahu bahwa senyum itu sering kali hanyalah topeng . Belakangan ini, ada kekosongan yang sulit sekali kujelaskan. Rasanya seperti tubuhku berada di tengah keramaian, tetapi pikiranku mengembara ke tempat yang entah di mana. Aku hadir, tetapi tidak benar-benar ada. Aku mendengar orang berbicara, tetapi suara-suara itu seperti berlalu begitu saja tanpa benar-benar sampai ke hatiku. Sering kali aku terdiam dengan pandangan kosong. Di luar terlihat tenang, tetapi di dalam kepalaku begitu riuh. Pikiran-pikiran datang silih berganti tanpa arah, membuatku lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Ada saat-saat ketika aku ingin berteriak sekencang mungkin. " Sudah cukup! " Namun, aku tahu teriakan itu tidak akan menghentikan apa pun. Kekosongan itu tetap ada, diam-diam memenuhi setiap sudut hatiku. Kini aku mulai memahami satu hal....

Ketika Ketakutanku Ternyata Hidup di Dalam Diri Anakku

Ada satu hal yang belakangan ini terus membuatku berpikir . Dulu, saat mengandung anakku, aku adalah pribadi yang penuh ketakutan. Aku takut berada sendirian. Aku takut pada gelapnya malam. Bahkan suara hujan yang turun begitu deras sering membuat hatiku gelisah tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku mengira semua ketakutan itu hanya akan menjadi bagian dari perjalanan kehamilanku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, aku akan melihat hal yang sama pada anakku. Hari ini aku baru benar-benar menyadarinya. Anakku ternyata memiliki ketakutan yang sangat mirip denganku dulu. Ia tidak suka ditinggal sendirian. Ia merasa takut ketika ruangan terlalu gelap. Dan setiap kali hujan turun dengan suara yang keras, ia terlihat cemas dan mencari tempat yang membuatnya merasa aman. Melihat itu membuatku terdiam. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah mungkin ketakutan yang dulu aku rasakan selama kehamilan ikut terbawa dalam tumbuh kembangnya? Ataukah tanpa sadar, sikap d...

Ketika Menjauh Adalah Pilihan Terbaik

 Ada satu hal yang belakangan ini sering terlintas di pikiranku. Sebagai manusia, kita semua pasti pernah berbuat salah. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar sempurna. Kadang tanpa sadar kita memiliki ego yang begitu besar, merasa pendapat kitalah yang paling benar, memandang rendah orang lain, dan menilai segala sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri. Lebih menyedihkan lagi, terkadang kita begitu mudah percaya pada cerita yang belum tentu benar. Mendengar satu sisi, lalu langsung mengambil kesimpulan. Menghakimi tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku belajar bahwa ada orang-orang yang, sekeras apa pun kita mencoba menjelaskan, tetap tidak akan mau mendengarkan. Bukan karena kita kurang jelas berbicara, tetapi karena hati dan pikirannya sudah tertutup oleh keyakinan yang ia bangun sendiri. Di saat seperti itu, aku menyadari bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahpahaman harus dipaksa untuk diluruskan saat itu juga. Ka...